Thursday, September 13, 2018

DOLOMIT

Dolomit adalah Mineral, Bukan Batuan

Pengertian Dolomit

Sama halnya dengan gipsum yang sering disebut sebagai batuan, dolomit pun di masyarakat awam disebut dengan batu dolomit atau batuan dolomit. Perlu dipahami bahwa dolomit bukan batuan, tetapi merupakan mineral. Dolomit adalah kelompok mineral sangat unik, dan bila dibandingkan dengan kalsit yang mudah dikenal, baik cara terbentuknya, penamaan, maupun mineral penyusunnya. Untuk membedakan antara keduanya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan bantu seperti mikroskop elektron (scanning electron microscope-SEM), zat pewarna (stainning) serta difraksi sinar-X.

Dolomit ditemukan tahun 1795 oleh de Dolomieu di daerah Tyrol, Perancis Selatan saat menganalisis batugamping dan ternyata ditemukan kandungan magnesium sangat tinggi pada batuan tersebut. Dolomit adalah karbonat kembar berunsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Penggunaan dolomit di sektor industri karena unsur magnesiumnya. Unsur oksida maupun hidroksida magnesium dalam dolomit mempunyai sifat sangat baik, terutama sifat refraktori serta derajat kecerahan, bahkan warna putih oksida ini dijadikan standar untuk mengukur derajat kecerahan bahan lain.

Pembentukan Dolomit

Keterdapatan dolomit di alam tidak seperti batugamping, namun tersebar cukup luas dalam jumlah relatif banyak. Hingga saat ini, mula jadi mineral dolomit masih menjadi tanda tanya serta masih diperdebatkan oleh para ahli. Proses hidrotermal adalah salah satu teori mula jadi dolomit. Walaupun demikian ada beberapa teori mula jadi dolomit, diantaranya adalah :

Cara Primer: merupakan sedimentasi langsung dari air laut yang belum dapat dibuktikan. Secara umum, dolomit berbentuk urat, terbentuk bersama-sama dalam cebakan bijih;

Cara Sekunder: yaitu mineral dolomit terjadi karena penggantian mineral kalsit. Beberapa mineral sekunder membentuk kristal yang tidak sempurna karena peresapan magnesium dari air laut ke dalam batugamping, yang lebih dikenal dengan proses dolomitisasi, yaitu proses perubahan mineral kalsit menjadi dolomit. Dolomit sekunder dapat juga terbentuk karena proses presifitasi sebagai endapan evaporit.

Faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan dolomit sekunder, antara lain adanya tekanan air yang banyak mengandung unsur magnesium dan prosesnya berlangsung dalam waktu lama. Semakin tua umur batugamping, semakin besar kemungkinan untuk berubah menjadi dolomit. Dapat dikatakan bahwa dolomit yang sering kita jumpai terbentuk karena proses perubahan (diagenesis), peralihan mineral kalsit maupun aragonit.

Dolomit terdapat dalam batuan segala umur, terutama pada batuan lebih tua dari Holosen. Dolomit biasanya terdapat bersama-sama dengan kalsit atau biasa disebut juga dengan dolomitisasi serta dedolomitisasi. Proses dolomitisasi sering terjadi apabila kalsit berubah menjadi mineral dolomit, sedangkan dedolomitisasi bila dolomit berubah kembali menjadi mineral kalsit. Secara umum proses dolomitisasi dapat terjadi sebagai berikut :
  • Pemompaan kembalinya air laut yang terperangkap melalui batugamping,
  • Pencampuran antara air laut dan air tanah dalam lapisan batugamping,
  • Pengaruh air hujan melarutkan serta memindahkan ion magnesium dari mineral kalsit yang satu ke mineral kalsit lain atau dari mineral lempung,
  • Proses penguapan dan pengendapan dari air laut,
  • Proses hidrotermal,
  • Peresapan air laut yang terperangkap ke dalam lapisan batugamping dibawahnya.

Deskripsi Mineral Dolomit

Sebagai salah satu rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis sebagai CaCO3.MgCO3, CaMg(CO3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil dari satu.

Dolomit yang ada di alam jarang dalam keadaan murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batugamping. Dalam batuan dolomit, mineral kalsit adalah pengotor paling utama, disamping kwarsa, rijang, pirit maupun mineral lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga ion-ion pengotor, terutama ion besi (Fe).

Gambar mineral dolomit dan sifat fisiknya.

Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,5 - 4, bersifat pejal, berat jenis antara 2,8 - 2,9, berbutir halus hingga kasar dan mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan. Klasifikasi dolomit dalam industri didasarkan atas kandungan unsur magnesium. Kandungan unsur magnesium inilah sangat menentukan nama dolomit. Misalnya, batugamping mengandung ± 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, sedangkan bila mengandung 19 % MgCO3 disebut dolomit.

Kegunaan atau Manfaat Dolomit

Penggunaan dolomit dalam industri tidak seluas penggunaan batugamping dan magnesit. Kadang-kadang penggunaan dolomit ini sejalan atau sama dengan penggunaan batugamping atau magnesit untuk suatu industri tertentu. Akan tetapi, biasanya dolomit lebih disukai karena banyak terdapat di alam. Tidak semua dolomit alam dapat digunakan secara langsung untuk industri. Hal ini disebabkan oleh adanya pengotor yang terkandung didalamnya baik berupa batuan, mineral maupun unsur tertentu. Penyebab lainnya ialah sifat fisik yang tidak memenuhi syarat untuk industri tertentu. Oleh sebab itu, sebelum digunakan dolomit tersebut harus di proses terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran, menaikkan mutu serta memperbaiki sifat fisik yang dikehendaki oleh industri yang memerlukannya.

Pengolahan dolomit paling sederhana ialah dengan cara pembakaran. Pada pembakaran tersebut dolomit akan melepaskan karbon dioksida (CO2). Suhu yang diperlukan untuk melepaskan CO2 pada tekanan 1 atmosfir kira-kira 725C. Perubahan suhu tergantung dari jenis tanur (kiln) yang digunakan, tetapi kadang-kadang juga dipengaruhi oleh pengotor di dalam dolomit. Hasil pembakaran ini disebut doloma tohor (CaMgO2) yang masih bersifat reaktif. Apabila bercampur dengan air, maka terbentuklah doloma padam.

Pembakaran dolomit dapat dilakukan dalam tanur tegak atau tanur berputar. Penggunaan tanur berputar berkapasitas tinggi dapat mengurangi biaya. Biasanya dolomit harus dihancurkan terlebih dahulu menjadi partikel berukuran 3 - 40 mm. Dalam tanur tegak, ukuran yang dipakai adalah 40 - 150 mm dan menghasilkan dolama bermutu baik, terutama untuk pembuatan bata tahan api.

Penggunaan lainnya dari dolomit, yaitu dalam industri refraktori, tungku pemanas atau tungku pencair, dan juga dalam industri pupuk sebagai bahan baku pupuk dolomit. Fungsi pupuk dolomit adalah untuk meningkatkan pH tanah, disini unsur Mg dalam dolomit sangat berperan. Dolomit juga dapat digunakan pada industri cat sebagai pengisi (filler), industri kaca, plastik, kertas, bahan pembuat semen, sorel, sea water magnesia, industri alkali, pembersih air, industri ban, plywood, industri obat-obatan maupun kosmetik, campuran makanan ternak, industri keramik, serta bahan penggosok (abrasive).

Sumber : Flysh Geost

Monday, July 23, 2018

PROMO PUPUK MAGNESIUM KEMERDEKAAN RI KE - 73

KEMBALI KAMI TAWARKAN HARGA SPESIAL KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE - 73 UNTUK PEMBELIAN PUPUK MAGNESIUM (MgO) CV. PUSAKA ALAM.

SEGERAH HUBUNGI KAMI............

www.pusakaalam-jaya.blogspot.com

0813 6041 2624

Cara Menghitung Produksi Padi


Sebelum kita memutuskan untuk memanen sendiri padi kita atau menjual ketika masih di sawah tentunya kita harus bisa memprediksi atau memperkirakan hasil panen padi yang akan kita dapatkan. Sehingga kita tidak sampai tertipu oleh tengkulak karena kita sudah bisa memprediksi hasil panen kita.

Sebenarnya cara memprediksi atau memperkirakan panen padi ada beberapa metode. Namun kali ini hanya akan menyampaikan 2 metode yang sudah biasa saja. Yaitu metode ubinan dan metode menghitung 4 faktor.

1. METODE UBINAN

Alat/ bahan yang perlu dipersiapkan : meteran, tali, ajir, sabit/sabit bergerigi, terpal, tampah, karung dan timbangan.Waktu ubinan yang terbaik jam 9-12 siang.

Cara ubinan :

  • Pilih 2 lokasi yang akan dijadikan tempat ubinan (misal titik A dan B). Sebenarnya untuk menentukan lokasi atau titik ubinan ini ada cara khusus, tetapi tidak perlu saya jelaskan disini karena terlalu ribet dan harus pake tabel. Yang penting tentukan lokasi di tengah petakan sawah dan yang mampu mewakili keadaan padi tersebut. (padi yang tumbuhnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek.
  • Ukur menggunakan meteran kedua lokasi tersebut dengan jarak panjang dan lebar masing-masing 2,5 meter
  •  Beri tanda hasil pengukuran dari kedua lokasi tersebut menggunakan ajir dan tali
  • Panen lokasi yang sudah diberi tanda menggunakan sabit/ sabit bergerigi
  • Rontokan gabah dari malainya pada tempat yang telah diberi alas terpal
  • Bersihkan kotoran yang ada pada gabah menggunakan tampah
  • Timbang hasil dari kedua lokasi ubinan tersebut (misal titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg)


Cara menghitung ubinan :

Misal dari hasil timbangan diatas adalah titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg, maka untuk menghitungnya adalah :

  • Jumlahkan dahulu hasil timbangan kedua titik kemudian dibagi 2 - (5,5 kg + 6 kg) : 2 = 5,75 kg
  • Karena jarak ubinannya 2,5m x 2,5m maka luas ubinan adalah 6,25m2
  • Rumus ubinan/perkiraan = hasil rata-rata timbangan x (10.000 m2 : luas ubinan)
  • Perkiraan produksinya = 5,75 kg x (10.000 m2 : 6,25 m2) -- 5,75 kg x 1.600 = 9.200 kg/Ha GKP
  • Jadi hasil perkiraan produksi adalah 9.200 kg/Ha atau 9,2 ton/Ha GKP

  
2. METODE MENGHITUNG 4 FAKTOR

Sebelum kita memulai menghitung produksi padi dengan metode 4 faktor maka kita harus mengetahui dan menghitung 4 faktor tersebut:

  • Jarak tanam sehingga diketahui jumlah rumpun/ ha
  • Jumlah anakkan
  • Jumlah butir per malai
  • Jumlah 1000 butir per gram

 Adapun caranya adalah sebagai berikut : 

  • Tentukan jarak tanamnya (misal 25 cm x 25 cm maka jumlah rumpunnya 160.000). Jumlah rumpun diperoleh dari 1 ha (dlm cm dibagi 25x25 cm) yaitu 100.000.000 : 625 = 160.000
  • Tentukan 2 rumpun padi secara acak. Pilih yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek.
  • Hitung jumlah anakkannya. 
  • Hitung jumlah anakkan yang ada malainya. Bila dalam satu rumpun ada 18 anakkan yang ada malainya.
  • Hitung seluruh biji dalam rumpun itu dan dibagi rata dengan jumlah malai.


Misalkan rumpun 1 ada 2100 butir/ rumpun. maka rata-rata per malai adalah 116 butir. atau bisa kita ambil 3 malai saja, yang pendek, sedang dan panjang. Kita hitung jumlahnya dan dibagi 3, maka hasilnya 116 butir

Misal rumpun 2 ada 14 anakkan 1800 butir/ rumpun. Maka rata-rata per malai adalah 128 butir

– hitung berat 1000 butir GKP ( misalkan 30 gram )

Rumus Hasil = jumlah rumpun x jumlah anakan x butir per malai x berat per 1000 butir

Hasil untuk rumpun 1

= (160.000 x 18 x 116 x 30) : 1000
= 10022400 gram
= 10022,4 kg
= 10,022 ton/Ha GKP

Hasil untuk rumpun 2

= 160.000 x 14 x 128 x 30/1000
= 8601600 gram
= 8602 kg
= 8,602 ton/Ha GKP

Hasil Perkiraan Panen, kita ambil hasil rata-rata

= ( 10,022 + 8,602 ) : 2
= 9,312 ton/ha GKP

Demikian tentang cara menghitung, memperkirakan atau memprediksi produksi padi. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. 


Sumber : gerbangpertanian.com

Manfaat Pertanian Organik




Pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik dan terpadu, yang mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Dalam kesehariannya, pertanian organik dilakukan dengan cara, antara lain: 

  1. Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika (GMO = genetically modified organisms). 
  2. Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis dan pengendalian gulma, hama serta penyakit dilakukan dengan cara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman. 
  3. Menghindari penggunaan zat pengatur tumbuh (growth regulator) dan pupuk kimia sintetis. Kesuburan dan produktivitas tanah ditingkatkan dan dipelihara dengan menambahkan residu tanaman, pupuk kandang, dan batuan mineral alami, serta penanaman legum dan rotasi tanaman. 
  4. Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis dalam makanan ternak.

Manfaat Pertanian Organik 


Sejumlah keuntungan yang dapat dipetik dari pengembangan pertanian organik adalah, antara lain: 

1. Kesehatan
  • Menghasilkan makanan yang cukup, aman dan bergizi sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat, disamping itu, produk pertanian organik juga mempunyai kandungan vitamin C, kalium, dan beta karoten yang lebih tinggi.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani, karena petani akan terhindar dari paparan (exposure) polusi yang diakibatkan oleh digunakannya bahan kimia sintetik dalam produksi pertanian.
  • Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian. Karena pertanian organik: (1) Menghindari penggunaan bahan kimia sintetisdan (2) Memanfaatkan limbah kegiatan pertanian seperti kotoran ternak dan jerami sebagai pupuk kompos.
2. Lingkungan


a. Kualitas Tanah
     Menjaga sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang baik merupakan hal yang penting dalam pertanian organik. Untuk itu dalam pertanian organik diutamakan cara pengelolaan tanah yang meminimalkan erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah serta mendorong kuantitas dan diversitas biologi tanah. Dalam pertanian organik peningkatan kesuburan tanah dilakukan tanpa menggunakan pupuk kimia sintetis dan sebagai gantinya digunakan teknik - teknik sebagai berikut : 

  •       Rotasi tanaman secara tepat, mixed cropping dan integrasi tanaman dengan ternak. 
  •      Meningkatkan populasi mikroorganisme tanah melalui penggunaan pupuk organik.
  •     Meminimalkan pengolahan tanah yang mengganggu aktivitas biota tanah. Menjaga tanah selalu tertutup dengan mulsa organik.
  •     Menghindari pengolahan tanah yang berlebihan pada tanah yang miring untuk mencegah erosi.
  •       Menggunakan tanaman dalam strip dan tumpang sari.
  •       Menghindari penggembalaan yang berlebihan.
  •     Tidak menggunakan bahan kimia sintetis yang meracuni mikro-organisme tanah dan merusak struktur tanah.
b.   Penghematan energi


Hasil studi menunjukkan bahwa sistem produksi organik hanya menggunakan 50%–80% energi minyak untuk menghasilkan setiap unit pangan dibandingkan dengan sistem produksi pertanian konvensional. Namun demikian, ini tidak berlaku untuk semua sistem produksi sayuran dan buah-buahan.



c.   Kualitas Air


Penjagaan kualitas air merupakan upaya yang sangat penting dalam sistem pertanian lestari (sustainable agriculture system). Kenyataan menunjukkan bahwa polusi air tanah (groundwater) dan air muka tanah (surface water) oleh nitrat dan fosfat menjadi hal yang umum terjadi di kawasan pertanian. Residu pupuk dan pestisida sintetis serta bakteri penyebab penyakit seperti Escherichia Coli juga seringkali terdeteksi di sistem perairan.

Pada areal pertanian organik, sumber air dijaga dengan menghindari praktek-praktek pertanian yang menyebabkan erosi tanah dan pencucian nutrisi, pencemaran air akibat penggunaan bahan kimia. Kotoran hewan yang akan digunakan untuk pupuk organik selalu dikelola dengan hati-hati dan dikomposkan sebelum digunakan. Di samping itu, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis juga dilarang dalam sistem pertanian organik.



d.   Kualitas Udara


Pertanian organik terbukti mampu meminimalkan perubahan iklim global karena emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emission) pada pertanian organik lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional. Dalam pertanian organik tidak menggunakan pupuk nitrogen sintetis sehingga tidak ada emisi nitrogen oksida dari pupuk buatan tersebut.

Penggunaan minyak bumi juga lebih rendah sehingga menurunkan emisi gas karbon dioksida. Lebih penting lagi, pertanian organik menyediakan penampungan (sink) untuk karbon dioksida melalui peningkatan kandungan bahan organik di tanah serta penutupan permukaan tanah dengan tanaman penutup tanah.



e.   Pengelolaan Limbah


Praktek pertanian organik mengurangi jumlah limbah melalui daur ulang limbah menjadi pupuk organik. Kotoran ternak, jerami dan limbah pertanian lainnya yang selama ini dianggap limbah, justru menjadi bahan yang mempunyai nilai sebagai sumber nutrisi dan bahan organik bagi pertanian organik.



f.    Keanekaragaman Hayati


Pertanian organik tidak hanya menghindari penggunaan pestisida sintetis, namun juga mampu menciptakan keanekaragaman hayati. Praktek seperti rotasi pertanaman, tumpang sari serta pe pengolahan tanah konservasi merupakan hal-hal yang mampu meningkatkan keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat yang sehat bagi banyak spesies mulai dari jamur mikroskopis hingga binatang besar.


Pertanian organik tidak menggunakan organisme hasil rekayasa genetika (Genetic Enggineering Organism) atau organisme transgenik (Genetically Modified Organism) serta produknya karena alasan keamanan lingkungan, kesehatan dan sosial. Produk-produk seperti ini tidak dibutuhkan karena mungkin menyebabkan resiko yang tidak dapat diterima pada integritas spesies.

Tuesday, August 16, 2016

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 71


DIRGAHAYU NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE 71

DENGAN SEMANGAT KERJA NYATA MEMBAWA RAKYAT INDONESIA MAKMUR DAN AMAN SENTOSA.......MERDEKA !! MERDEKA !!

Tuesday, July 5, 2016

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H


Segenap Direksi dan Manajemen CV Pusaka Alam mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Semoga di hari yang fitrah ini kita semua diberikan Rahmat dan Kesehatan serta Rezeki yang belimpah........Amiin

Thursday, June 16, 2016

Ramadhan Promosi

Ramadahn sudah pada pertengahan, hari raya Idul Fitri akan kita songsong dan musin tanam telah tiba mari segera tingkatkan kualitas produksi panen kita.

CV Pusaka Alam sebagai penyedia pupuk MgO memberikan harga spesial bulan Ramadhan, segera hubungi kami untuk informasi lebih lanjut :

CV Pusaka Alam tahu kebutuhan PETANI...

PRODUK UNGGULAN

PUPUK MAGNESIUM PUSAKA ALAM

Apa yang anda harapkan dalam mengelola pertanian atau perkebunan selain mengharapkan hasil yang baik, melimpah dan berkualitas. Dalam harap...